Pohon Trembesi itu nampak begitu kokoh, meskipun tumbuh di tebing batu kapur. Daunnya masih rimbun meski mungkin tak banyak humus yang terserap melalui akar yang melilit-lilit melalui celah bebatuan kapur di pinggir pantai ini. Batang pohonnya memang berlobang-lobang sebagai pertanda telah banyak kesengsaraan dan sulitnya bertahan hidup melawan kerasnya alam tempat ia tumbuh. Di tambah lagi bekas-bekas guratan tangan- tangan nakal di sekujur kulit pohon yang mengelupas. Mungkin maksudnya sebagai prasasti saat memadu kasih. Apakah aku juga pernah melakukan yang seperti itu?
17 mei..... I love you, Budi & shinta love forever, surabaya 2 january I hate U dan semacamnya, semua tertumpah akibat perasaan masing-masing pengguratnya. Mungkin ada benarnya, pantai menjadi lokasi memadu kasih yang paling murah dan aman dari gangguan satpol PP dan hukum, norma serta semacamnya. dan sekarang aku justru membawa perasaan hatiku ke pantai ini, yaaa... ketempat di mana sering kali ada jiwa- jiwa yang sedang memadu kasih seakan mengawali perjalanan panjang sejarah kehidupannya masing-masing.
Aku yakin pasti banyak di antara yang mengguratkan sebaris kata di pohon ini juga ada yang kecewa, patah hati atu bahkan bunuh diri setelah tahu pasangannya ternyata justru selingkuh, atau mungkin si perempuan justru lari kekota kemudian di jual makelar ke kompleks pelacuran setelah keperawanannya direnggut kekasihnya yang dulu. Tapi aku juga yakin pasti tidak sedikit di antara mereka yang beranak pinak dan hidup berumah tangga dengan bahagia meskipun hanya menjadi petani yang sederhana.
Ah,... semua semakin menjadi pelik. Aku sendiri masih belum mampu menyelesaikan permasalahan yang sedang menggelayuti hatiku. sementara aku sibuk memikirkan urusan orang lain, betapa gila dan bodohnya. Aku lari? yaa aku lari dari kenyataan ketika mataku yang nyalang menyaksikan tubuh telanjang istriku sedang bergumul dengan nafas memburu dengan laki-laki piaraannya. aku tidak terima.... aku tidak terima.... aku tidak terima!!! meskipun itu juga seringkali aku melakukannya dengan perempuan lain dan itu kau sudah tahu!.
Aku belum bisa merelakannya, aku melarikan diri dari ketakutanku di pinggir pantai berbatu tempat pohon trembesi ini tumbuh. laut masih berdebur- debur dengan ombak pantainya yang tak lelah. sekumpulan nelayan dengan perahu cadiknya nampak mungil di kejauhan sedang memancing ikan pari atau menjaring layur. Aku tak habis pikir, kenapa mereka rela bergumul dengan maut di tengah samudra lepas? apakah ini arti cinta, atau demi anak istri atau hanya sebagai tuntutan sebutan bahwa mereka adalah nelayan yang tak mungkin di sebut nelayan ketika mereka tidak melaut. Selama ini tak pernah terlintas dalam pikirku.
Cinta memang sulit, bukankah aku juga mencinta istriku meskipun aku juga sering mengecewakan. bukankah dia juga mencintaku, meskipun sore itu ia juga sedang bergumul dengan laki-laki piaraannya. Terus apa artinya semua ini....jika semua orang mengatasnamakan cinta. bukankah sebuah bukti bahwa aku masih mencintanya, jika aku masih belum bisa merelakan pergumulan itu.
Hari makin gelap dan aku harus segera pulang, mencoba melupakan pergumulan itu, aku masih berjanji akan menyapamu dengan senyuman paling manis yang selama ini tersimpan. tiba di rumah, tetap gelap, hanya lampu teras yang menyala. Pikiranku mulai kacau, kembali terlintas pergumulan haram itu, aku membayangkan tubuh telanjangmu penuh peluh dan lelaki itupun tengah berlomba memacu jantungnya lebih keras. aaaahhhhhh.....
Istriku.....istriku......istriku....., aku menjerit-jerit seperti anak kecil yang mau di suntik cacar. Aku melonjak-lonjak tak ubahnya kuda lumping kesurupan, mataku melotot tak percaya ketika sesosok tubuh telanjang itu menggelepar-gelepar dengan bau Baygon menyengat di seluruh ruangan...............
13 July, 2007
Kehilangan itu Terlalu Menyakitkan, Kawan
Posted by
Rully Hermanto
at
10:33 PM
0
comments
29 May, 2007
Kawan Aku mulai Kehilangan
Kawan, secangkir kopi pagi ini mulai tak nikmat lagi. Aku mulai mencari-cari alasan kenapa kopi ini menjadi berasa aneh, padahal bungkusnya masih sama dengan yang kemarin? Mulai terlintas di kepala sederetan nama-nama kopi, robusta, arabika, kopi lampung atau kopi yang ditanam dengan pupuk organik atau pupuk kimia. Jujur semua itu biasanya tak aku pedulikan.
Aku mulai membolak-balik halaman koran, mencoba menikmati hasil pekerjaan kemarin. Kubaca lagi artikel tentang gonjang-ganjing kasus korupsi di lingkungan pemkot. Aku mulai membayangkan betapa uang ini akan sangat melimpah jika kita gunakan untuk hidup berdua saja di sebuah desa kecil seperti yang kau cita-citakan. Bikin rumah panggung berdinding papan di pinggir pantai dengan halaman luas yang ditumbuhi pohon kelapa. Miara kuda poni agar setiap sore kita bisa menunggang kuda menyusuri pasir di sepanjang pantai dan melupakan semua permasalahan rumit yang jika dirunut sebetulnya bukan masalah kita, seperti katamu (bisakah?)
Kau selalu ketakutan, ketika kesibukan sama-sama mendera kita, saat ia datang bagai setan yang bergentayangan di malam suntuk sehingga ketika mata kita hampir terpejampun masih selalu terlintas bayangannya. Atau ketika datang sedikit waktu untuk mengendorkan saraf, yang ada justru ketegangan-ketegangan baru diantara desah nafas penuh nafsu. Perang Lebanon selalu muncul, seiring keringnya keringat setelah pergumulan itu, meski kau dan aku tak pernah keluar sebagai pemenang, tapi nyatanya kesempatan bercumbu rayu dan menumpahkan segala ungkapan kasih dan sayang itu selalu dihiasai pertengkaran. Dan selalu bisa kupastikan pagi setelahnya tidak akan ada kopi di meja makan.
Kawan, kau pasti lelah dan akupun capek. Mencoba mengais semangat baru dengan bercermin kepada pak Yat, tukang becak sebelah rumah kontrakan yang selalu berangkat pagi. Aku pun segera melempar koran, menyambar kunci motor dan jaket. Selalu tergesa-gesa tak sempat lagi mengunci pagar atau sekedar mengelus bulu si belang yang sedang tiduran di teras rumah.
Jalanan mulai macet, asap mulai memenuhi rongga pernafasan, ada sesuatu yang rasanya tiba-tiba memanggilku untuk berhenti di samping pagar tembok sebuah pabrik. Yaa aku tahu sekarang, tadi malam saat aku pulang tembok ini masih putih dengan cat barunya. wow rupanya para bomber semalam telah bergerilya menumpahkan segala keresahannya. Mereka mencoba menyapa siapa saja dengan caranya sendiri. Ya…lewati grafiti dan mural atau coretan dinding apalah, mereka telah mencoba menyapaku, betapa indahnya jika semua saling bertegur sapa? Itu yang sudah lama tidak kau atau aku lakukan.
Aku mulai yakin, itu yang kita butuhkan! bukan hanya sekedar pergumulan pelampiasan syahwat tanpa kata-kata dan selalu diakhiri dengan perang antar genk, pertikaian yang selalu muncul bukan karena sebab yang prinsip. Kau selalu protes perutku yang semakin membuncit atau nafasku yang bau. Padahal kata-kata tanpa tuntutan akan melahirkan cinta-cinta yang lain hingga mampu meniadakan gelambir lemak di perut atau bau mulut. Aku berjanji, akan mengucapkan salam saat membuka pagar sepulang kerja nanti, atau menyapamu dengan senyum paling manis yang selama ini hanya aku keluarkan saat berasyik masyuk dengan perempuan-perempuan yang menemaniku di hotel saat aku liputan di luar kota.
Aku mulai membolak-balik halaman koran, mencoba menikmati hasil pekerjaan kemarin. Kubaca lagi artikel tentang gonjang-ganjing kasus korupsi di lingkungan pemkot. Aku mulai membayangkan betapa uang ini akan sangat melimpah jika kita gunakan untuk hidup berdua saja di sebuah desa kecil seperti yang kau cita-citakan. Bikin rumah panggung berdinding papan di pinggir pantai dengan halaman luas yang ditumbuhi pohon kelapa. Miara kuda poni agar setiap sore kita bisa menunggang kuda menyusuri pasir di sepanjang pantai dan melupakan semua permasalahan rumit yang jika dirunut sebetulnya bukan masalah kita, seperti katamu (bisakah?)
Kau selalu ketakutan, ketika kesibukan sama-sama mendera kita, saat ia datang bagai setan yang bergentayangan di malam suntuk sehingga ketika mata kita hampir terpejampun masih selalu terlintas bayangannya. Atau ketika datang sedikit waktu untuk mengendorkan saraf, yang ada justru ketegangan-ketegangan baru diantara desah nafas penuh nafsu. Perang Lebanon selalu muncul, seiring keringnya keringat setelah pergumulan itu, meski kau dan aku tak pernah keluar sebagai pemenang, tapi nyatanya kesempatan bercumbu rayu dan menumpahkan segala ungkapan kasih dan sayang itu selalu dihiasai pertengkaran. Dan selalu bisa kupastikan pagi setelahnya tidak akan ada kopi di meja makan.
Kawan, kau pasti lelah dan akupun capek. Mencoba mengais semangat baru dengan bercermin kepada pak Yat, tukang becak sebelah rumah kontrakan yang selalu berangkat pagi. Aku pun segera melempar koran, menyambar kunci motor dan jaket. Selalu tergesa-gesa tak sempat lagi mengunci pagar atau sekedar mengelus bulu si belang yang sedang tiduran di teras rumah.
Jalanan mulai macet, asap mulai memenuhi rongga pernafasan, ada sesuatu yang rasanya tiba-tiba memanggilku untuk berhenti di samping pagar tembok sebuah pabrik. Yaa aku tahu sekarang, tadi malam saat aku pulang tembok ini masih putih dengan cat barunya. wow rupanya para bomber semalam telah bergerilya menumpahkan segala keresahannya. Mereka mencoba menyapa siapa saja dengan caranya sendiri. Ya…lewati grafiti dan mural atau coretan dinding apalah, mereka telah mencoba menyapaku, betapa indahnya jika semua saling bertegur sapa? Itu yang sudah lama tidak kau atau aku lakukan.
Aku mulai yakin, itu yang kita butuhkan! bukan hanya sekedar pergumulan pelampiasan syahwat tanpa kata-kata dan selalu diakhiri dengan perang antar genk, pertikaian yang selalu muncul bukan karena sebab yang prinsip. Kau selalu protes perutku yang semakin membuncit atau nafasku yang bau. Padahal kata-kata tanpa tuntutan akan melahirkan cinta-cinta yang lain hingga mampu meniadakan gelambir lemak di perut atau bau mulut. Aku berjanji, akan mengucapkan salam saat membuka pagar sepulang kerja nanti, atau menyapamu dengan senyum paling manis yang selama ini hanya aku keluarkan saat berasyik masyuk dengan perempuan-perempuan yang menemaniku di hotel saat aku liputan di luar kota.
Rumah mungil di tepi pantai itu selalu mebayangiku, juga wajahmu yang semakin matang di hias bedak tipis seperti pertama aku mengenalmu tak pernah lepas dari kelopak anganku. Aku semakin yakin aku harus menyelamatkan perahu yang mulai retak ini. Aku harus segera keluar dari pekerjaanku untuk segera mengajakmu mengawali petualangan baru dengan rumah kecil di tepi panti. Dan, itu artinya kau pun harus segera melepaskan segala tanggung jawabmu pada pekerjaan yang telah kita jalani selama sepuluh tahun ini. Sesampai di rumah nanti aku berjanji, setelah mengucap salam dan senyum paling manis aku akan mengajakmu jalan-jalan. Itu yang sedang kita butuhkan, bukan hanya sebatas keakuan yang terjal sekeras batu karang.
Seharian tak bisa konsentrasi, setelah menyatakan keinginan hati mencoba berkonsultasi pada redaktur seniorku. Bayangan rumah kecil di pantai dan wajahmu serta derai suara bocah yang selama lima tahun ini telah kita rindukan, seakan-akan menjelma menjadi fakta. Sulit, benar-benar sulit ku lewati. Baru sekedar membayangkan saja indahnya seakan tak bisa kutinggalkan walau untuk beberapa saat, bagaimana jika ini menjadi kenyataan? Tak banyak yang bisa aku kerjakan seharian ini, tugas liputan aku wakilkan, teman-teman. Begitu waktu sudah menunjukan kepantasan seseorang untuk pulang kerja aku langsung tancap gas, lebih sore dari biasanya.
Lampu jalan dan teras rumah belum di nyalakan, masih agak terang di luar, cahaya merah saga matahari yang hampir tenggelam. Pintu rumah sedikit terbuka meski tak terdengar suara. Aaah… kau sedang memulai pergumulan yang panas dengan lelaki itu, hati panas seperti terbakar, hampir aku menyerobot masuk dan menghujamkan apa saja pada pergumulan itu. Hatiku dibakar cemburu yang sangat. Ah,… mungkin kau juga cemburu saat mengetahui aku sedang bergumul dengan perempuan lain di waktu yang lalu. Perasaanmu mungkin sama dengan apa yang aku rasakan saat ini.
Kembali menyambar kunci motor dan jaket di teras, melarikan motor dengan kencang, aah,… mungkin kau kaget dan menyudahi pergumulan itu, aku menyesal. Mestinya aku tak mengejutkanmu dengan tarikan gas, hingga motorku meraung- raung. Aku pergi meninggalkanmu, aku pergi melarikan ketidak realaanku.
Mestinya saat ini aku masih ada di sampingmu, tapi nyatanya aku justru belum bisa menerima apa yang aku lihat saat saga sedang merah. Sungguh bukan hal yang fair yang telah aku lakukan, bukankah aku juga pernah bahkan sering melakukannya? *>*>*>
Posted by
Rully Hermanto
at
8:45 AM
0
comments
25 May, 2007
Untuk Temanku 1
apa kabar teman, aku belum banyak mengenalmu, begitu juga kamu yang sama sekali belum tahu siapa aku sebenarnya, tapi setidaknya dalam keseharianku belakangan ini kamu justru sering mengganggu dengan kehadiranmu yang tiba-tiba melebihi dia yang sudah lama aku kenal. dia yang sudah aku pahami segala lekuk dan gelambir lemak di sekujur tubuhnya maupun aroma keringat yang selalu membuatku ingin melakukannya bersama dia meski hanya sesaat.
teman, hari ini, saat aku mengungkapkan segala isi hatiku ini masih bulan mei, lho? meski hujan sudah jarang turun tapi setidaknya ada sesuatu yang secara paksa telah menyeretku untuk kembali meniti waktu yang jauh telah tertinggal. yaa, seseorang yang sampai saat ini enggan terusir dari dalam hatiku meskipun sebenarnya dia sudah menjalani kehidupannya sendiri bersama anak-anaknya. dan bulan ini dia kembali bertambah usianya. sorry aku lupa usianya yang sekarang. teman, pasti kamu bertanya kenapa kok aku hanya menyebutnya dia bersama anak-anaknya, mengapa aku enggan menyebut pasangannya? yaa aku yakin teman, kamu pasti tahu bahwa aku sampai saat ini belum bisa menerima keberadaannya dia yang telah memberikan anak-anak yang lucu kepadanya. kamu pasti mengintepretasikan bahwa aku adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan, tidak semua salah teman. dan dulu aku pun pernah berharap akulah yang akan memberikan anak-anak yang manis padanya.
teman, ternyata segala kelembutan seringkali membuat aku tak berdaya. dan sampai saat inipun aku masih sering terpedaya dengan segala pesona itu, ada mata yang memancarkan seribu puisi, ya tidak persis sama memang dengan matanya yang telah pergi meninggalkan aku. tapi sekali lagi kejadiannya seakan-akan baru kemarin dan sampai saat ini masih mengeram dalam ingatanku.
kau pasti bertanya-tanya apa yang telah membuatku menyapamu sedini ini?teman, rasanya sebuah rasa kangen tak perlu alasan lagi untuk menyerang siapa saja dalam keadaan bagaimanapun juga kan? rasa ini begitu datang tiba-tiba yang tahu-tahu telah menghujam begitu dalam. dia datang secara otomatis seperti petugas pencatat meter listrik yang selalu datang setiap bulan, hanya bedanya rasa kangen ini datang tidak secara periodik tapi justru itu yang sering membuat aku tak bisa berbagi konsentrasi apalagi ketika aku sedang berkutat dengan pekerjaanku. dan tak jarang justru aku berharap kamu benar-benar ada di sampingku meskipun tanpa kehadiran kata-kata.
aku tahu jadwal aktivitasmu begitu padat, sebagai orang media, waktumu bukan lagi 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu tapi sudah berubah seiring intensitas pekerjaannmu, ya taruh kata waktumu menjadi 25 jam perhari dan 8 hari perminggu tapi kau masih begitu menikmati hari-harimu, (terus terang aku iri padamu). di tambah lagi kegiatan lainnya, sebagai penggiat seni bahkan kamu juga masih mempunyai pekerjaan sampingan sebagai makelaar tanah atau semacamnya. gila, apa kamu termasuk orang workalcoholic?
pernah suatu ketika kamu bilang hidup perlu keseimbangan, dan keseimbangan yang kau dapatkan itu ada pada seni sebagai perimbangan suntuk dan kering jiwamu ketika harus terus menerus berkutatan dengan tuntutan pekerjaanmu, yaa, yaaa mungkin itu benar dan suatu saat aku mungkin perlu mencoba? " kau masih sering berteater atau berpuisi dan semacamnya" suatu ketika pertannyaanmu sedikit mengusik ketegangan yang sudah lama aku belenggu. sedikit berdalih aku menjawab sekenanya, "lho hidup ini kan puisi dan teater yang harus kita lakonkan setiap hari", tidak enak juga aku berdebat sama kamu, makanya aku kemudian meninggalkan kamu dengan alasan menyelesaikan pekerjaan, padahal sebenarnya aku masih ingin berlama-lama sama kamu meskipun sekedar memandangmu saja tanpa kata-kata, aku sudah merasa tenang dan nyaman di dekatmu.
kenaifan, kegembiraan, kesedihan, resah, bingung, cemas, kepastian, ketidak pastian semua telah menggiringku untuk kadang-kadang menggodamu dengan kata-kata nakal dan terkadang aku jadi malu sendiri meskipun itu toh terulang terus, tapi setidaknya kamu mulai melihatku dan itu membuatku tenang dan nyaman. bukannya aku tidak bisa terlepas dari ketenangan dan kenyamanan ini tapi aku takut hal yang sebelumnya pernah terjadi akan terulang lagi. dan nyatanya sampai saat inipun aku belum pernah bisa menahan diri.
ah teman, aku sudah terlalu banyak menyita waktumu untuk mendengarkan keluh kesahku, aku khawatir kau menjadi bosan dan menganggap aku orang yang lemah dengan selalu berkeluh kesah, tapi setidaknya meskipun sedikit pengetahuanmu tentang aku jadi bertambah kan?
sayang selalu
temanmu
Lanjut......
teman, hari ini, saat aku mengungkapkan segala isi hatiku ini masih bulan mei, lho? meski hujan sudah jarang turun tapi setidaknya ada sesuatu yang secara paksa telah menyeretku untuk kembali meniti waktu yang jauh telah tertinggal. yaa, seseorang yang sampai saat ini enggan terusir dari dalam hatiku meskipun sebenarnya dia sudah menjalani kehidupannya sendiri bersama anak-anaknya. dan bulan ini dia kembali bertambah usianya. sorry aku lupa usianya yang sekarang. teman, pasti kamu bertanya kenapa kok aku hanya menyebutnya dia bersama anak-anaknya, mengapa aku enggan menyebut pasangannya? yaa aku yakin teman, kamu pasti tahu bahwa aku sampai saat ini belum bisa menerima keberadaannya dia yang telah memberikan anak-anak yang lucu kepadanya. kamu pasti mengintepretasikan bahwa aku adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan, tidak semua salah teman. dan dulu aku pun pernah berharap akulah yang akan memberikan anak-anak yang manis padanya.
teman, ternyata segala kelembutan seringkali membuat aku tak berdaya. dan sampai saat inipun aku masih sering terpedaya dengan segala pesona itu, ada mata yang memancarkan seribu puisi, ya tidak persis sama memang dengan matanya yang telah pergi meninggalkan aku. tapi sekali lagi kejadiannya seakan-akan baru kemarin dan sampai saat ini masih mengeram dalam ingatanku.
kau pasti bertanya-tanya apa yang telah membuatku menyapamu sedini ini?teman, rasanya sebuah rasa kangen tak perlu alasan lagi untuk menyerang siapa saja dalam keadaan bagaimanapun juga kan? rasa ini begitu datang tiba-tiba yang tahu-tahu telah menghujam begitu dalam. dia datang secara otomatis seperti petugas pencatat meter listrik yang selalu datang setiap bulan, hanya bedanya rasa kangen ini datang tidak secara periodik tapi justru itu yang sering membuat aku tak bisa berbagi konsentrasi apalagi ketika aku sedang berkutat dengan pekerjaanku. dan tak jarang justru aku berharap kamu benar-benar ada di sampingku meskipun tanpa kehadiran kata-kata.
aku tahu jadwal aktivitasmu begitu padat, sebagai orang media, waktumu bukan lagi 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu tapi sudah berubah seiring intensitas pekerjaannmu, ya taruh kata waktumu menjadi 25 jam perhari dan 8 hari perminggu tapi kau masih begitu menikmati hari-harimu, (terus terang aku iri padamu). di tambah lagi kegiatan lainnya, sebagai penggiat seni bahkan kamu juga masih mempunyai pekerjaan sampingan sebagai makelaar tanah atau semacamnya. gila, apa kamu termasuk orang workalcoholic?
pernah suatu ketika kamu bilang hidup perlu keseimbangan, dan keseimbangan yang kau dapatkan itu ada pada seni sebagai perimbangan suntuk dan kering jiwamu ketika harus terus menerus berkutatan dengan tuntutan pekerjaanmu, yaa, yaaa mungkin itu benar dan suatu saat aku mungkin perlu mencoba? " kau masih sering berteater atau berpuisi dan semacamnya" suatu ketika pertannyaanmu sedikit mengusik ketegangan yang sudah lama aku belenggu. sedikit berdalih aku menjawab sekenanya, "lho hidup ini kan puisi dan teater yang harus kita lakonkan setiap hari", tidak enak juga aku berdebat sama kamu, makanya aku kemudian meninggalkan kamu dengan alasan menyelesaikan pekerjaan, padahal sebenarnya aku masih ingin berlama-lama sama kamu meskipun sekedar memandangmu saja tanpa kata-kata, aku sudah merasa tenang dan nyaman di dekatmu.
kenaifan, kegembiraan, kesedihan, resah, bingung, cemas, kepastian, ketidak pastian semua telah menggiringku untuk kadang-kadang menggodamu dengan kata-kata nakal dan terkadang aku jadi malu sendiri meskipun itu toh terulang terus, tapi setidaknya kamu mulai melihatku dan itu membuatku tenang dan nyaman. bukannya aku tidak bisa terlepas dari ketenangan dan kenyamanan ini tapi aku takut hal yang sebelumnya pernah terjadi akan terulang lagi. dan nyatanya sampai saat inipun aku belum pernah bisa menahan diri.
ah teman, aku sudah terlalu banyak menyita waktumu untuk mendengarkan keluh kesahku, aku khawatir kau menjadi bosan dan menganggap aku orang yang lemah dengan selalu berkeluh kesah, tapi setidaknya meskipun sedikit pengetahuanmu tentang aku jadi bertambah kan?
sayang selalu
temanmu
Posted by
Rully Hermanto
at
7:05 AM
0
comments
21 May, 2007
belum ada judul
Maaf Anda belum bisa baca cerpen untuk saat ini; segera akan di up load! untuk sementara Anda bisa berkunjung ke menu utama lainnya dulu!
Posted by
Rully Hermanto
at
10:24 AM
0
comments
Subscribe to:
Comments (Atom)